Rabu, 13 Juni 2012

yesung

Just imagine your self as the girl if u like Yesung



Katakan aku bodoh. Karena memang mungkin aku begitu.
Hanya saja apa yang salah dari sebuah kata cinta? Kagum? Suka?
Tidak ada.
Layaknya diriku. Mungkin kata ‘itu’ terlalu naif untuk kuucap. Tak pantas kata ‘itu’ mengalir mulus dari bibirku. Tak pantas bagiku untuk mengatakan kata indah itu terhadapnya.
Bagai langit dan bumi.
Ia punya segalanya. Seolah semua bumi dan isinya ini miliknya. Mungkin  aku terlalu hiperbola. Tapi itu adalah perumpaan yang cocok.. kurasa.
Tak sebanding dengan diriku. Sebuah punguk merindukan bulan kurasa itu ungkapan yang cocok.
Apa yang membuatku pantas untuk dia? Tak ada.
Sebuah kata cinta tak akan pernah kuucap. Untuk apa?
Hanya sebuah kekaguman yang selama ini kuakui untuknya. Kekaguman yang terus merayap dalam benakku. Yang bagaikan bunga sakura yang semakin indah bersemi.
Bodoh memang ketika diriku hanya bisa melihatnya. Demi sebuah senyum yang mampu menghangatkan hariku. Demi pesonanya yang mampu membuat bibit-bibit kekaguman di hatiku semakin berkembang.
Aku tak ingin berhitung. Menghitung berapa detik, jam, hari, bulan dan tahun yang telah berlalu bagiku untuk mengaguminya. Dia terlalu indah untuk begitu saja dilewatkan. Meski aku hanyalah sebuah kuman yang tak kasat mata.
Tak peduli jika ia tak pernah melirikku. Meski aku adalah hoobaenya tapi aku tak berani berharap ia pernah sedikitpun melihatku. Terlalu takut untuk berharap. Karena harapan yang tak pasti hanya akan menumbuhkan benih-benih luka.
Cukup dengan senyumnya aku bahagia. Meski harus kujalani hidupku dalam pura-pura. Pura-pura sebagai resepsionis di residence tempat ia tinggal. Padahal hidup nyataku adalah seorang perawat.
Kenapa? Karena semenjak ia lulus aku tak tahu lagi cara untuk bisa melihatnya. Senyumnya terlanjur menjadi candu untukku. Sehari tanpa itu akan membuatku susah. Bodoh atau gila, terserah kalian menyebutnya.
Kenyataanya senyum yang semakin menambah wajah rupawannya itu menyihirku begitu kuat. Kurelakan satu jam hidupku untuk berpura-pura. Asal aku bisa melihatnya itu cukup.
Tapi hari ini berbeda. Candu itu tak ada. Sudah lebih 3 jam aku menunggunya. Kemana dia?
Aku hanya sibuk bermain dengan jemariku. Meremas atau menjentikkan jariku di meja. Menghalau semua rasa bosanku menunggunya. Tapi ia tetap tak kunjung tiba.
Ah aku ingin melihatnya. Tapi bahkan ini sudah waktunya untukku kerja. Jam kerjaku akan mulai sebentar lagi.
Dengan langkah gontai kutinggalkan meja resepsionis itu. Dengan hati penuh kecewa.
“Bersemangatlah. Kurasa ia sedang ada urusan di luar kota.. mungkin.” Ujar Shilla tepat sebelum aku melangkahkan kakiku. Mencoba menghiburku. Karena dialah aku bisa menjalani pura-pura ini. Dia resepsionis sesunguhnya. Tapi karena aku memohon padanya akhirnya ia bersedia memberikan sejam kerjanya untukku menggantikannya.
Aku mengulas senyum kecutku kemudian melangkah menuju rumah sakit tempatku bekerja.
***
Kubuka ruang rawat seorang pasien. Masih dengan langkah gontaiku. Seolah aku kehilangan semangatku satu-satunya.
Kuamati pasien itu. Korban kecelakaan. Tubuhnya terbalut perban putih tapi bercak darah masih jelas terlihat. Tak bisa kulihat jelas wajahnya, tertutupi selang yang menyangga napasnya.
“Dia kecelakaan di dekat tempatmu tinggal. Di jalan yang sama. Dari kartu identitasnya dia tinggal di apartemen dekat tempatmu” ujar Dokter Song. Kutolehkan kepalaku ke atas. mencoba mensejajarkan pandanganku dengannya yang beberapa senti lebih tinggi dariku.
“Keluarganya?”
“Tidak ada kontaknya. Yang berhasil dihubungi hanya sekretaris di perusahaanya saja. Ia salah satu ahli waris Kim Corp ternyata” jelasnya kemudian.
“Ini recap kondisinya saat ini. Kau yang bertugas untuk merawatnya” ujar Dokter Song lagi sebelum akhirnya meninggalkan ruangan ini. Menyisakan diriku dan pasien itu.
Kubuka recap yang Dokter Song berikan. Seketika mataku terbelalak. Tak percaya dengan yang kubaca.
Kim Jongwoon.
Ribuan belati rasanya kini tengah menusuk hatiku. Otakku tak mampu mengkoordinir saraf kakiku. Membuatku hanya terdiam di tempat.
Kim Jongwoon. Pria yang berhasil merebut hatiku tanpa pernah kuharapkan ia mengembalikannya. Manusia yang telah mampu membuatku nyaris terkena serangan jantung setiap hari. Membuyarkan susunan syarafku.
Aku menggelengkan kepalaku. Di korea ini bukankah banyak nama yang sama? Dia pasti bukan pria yang sama yang kukagumi.
Kupaksakan otot kakiku melangkah. Mendekati tubuhnya yang terbaring lemah.
Kuamati wajahnya. Dan kenyataan selanjutnya membuatku tak percaya.
Wajah itu, wajahnya. Meskipun kini goresan-goresan luka mendominasi tapi bisa kupastikan itu dia. Meski aku sangat berharap kalau itu bukan dia.
Cairan kristal kemudian mengalir mulus dari kelopak mataku. Kurasa aku juga membutuhkan bantuan oksigen untuk bernapas. Karena kini rasanya begitu sesak. Begitu sakit hanya untuk menghirup udara yang setiap harinya mengisi rongga paru-paruku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar